Makna Rumah Bagiku

‘Dimanakah rumahmu?’

Ketika mendengar pertanyaan di atas, apa yang akan kalian jawab?

Apakah kalian akan menjawab dengan menunjukkan alamat?

Rumah. . .

Rumah adalah keluarga. Dalam keluarga, disitu pasti ada rumah. Tapi dalam rumah, tidak selalu ada keluarga.

Cobalah tanya hati kecil para anak yang telah lama tinggal di panti asuhan yang baru saja diadopsi oleh sebuah keluarga, yang manakah rumah mereka? Rumah orang tua angkat mereka kah atau tempat panti asuhan?

Rumah, adalah suatu tempat yang telah kita anggap tempat kita kembali seberapa jauhpun kita pergi. Akan selalu ada rumah yang menunggu dan merindukan kita.

Dahulu saat aku kecil aku berharap memiliki rumah yang besar, ada kolam renang dan dua tingkat. Tapi ternyata, aku berakhir dalam rumah desa yang bahkan bukan rumahku ataupun keluargaku sendiri. Ketika aku menjadi mahasiswa dan harus bertempat tinggal di rumah saudaraku yang cukup besar dan luas, aku merasa tertekan. Itu bukan rumahku meskipun secara tak langsung itu adalah rumah keluarga kami. Aku tak pernah nyaman tinggal dalam kediaman itu.

Terkadang saat malam aku menangis sendirian tanpa ada seorangpun yang tau. Kediaman yang besar, tak menjamin kebahagiaan jika tidak ada kehangatan didalamnya.

Advertisements

Feeling and Love

Jika perasaan seseorang ditentukan dari seberapa sering seorang membuat kita bahagia, lalu bagaimana bila kita mendapatkan ibu yang kejiwaannya terganggu?

Seberapa pantas seorang untuk dicintai bukan dari perilaku orang itu terhadap kita, tapi cinta datang dari hati kita untuk selalu menggenggam tangan mereka dengan erat apapun yang terjadi.

Apakah kita sendiri sudah bisa dengan lantang menyatakan bahwa kita pantas dicintai? Kalau iya, lalu mengapa masih ada seorang diluar sana yang bisa membenci kita?

Jadi, mencintai itu dengan cara membahagiakan seorang? Lalu bagaimana disuatu hari ketika mempunyai anak yang berbuat salah, apakah kita tidak akan memarahinya dengan berdalih bahwa kita mencintainya?

Memang benar jika cinta berasal dari diri kita sendiri. Tapi, apakah perasaan sayang seorang ibu miskin akan tersampaikan jika dia menitipkan bayinya pada orang kaya dan hanya berdoa demi kebahagiaannya?

Yang mau aku katakan, cinta bukan suatu hal yang bisa dideskripsikan hanya dengan satu teori.

​Play: Sandeul (B1A4) – One More Step

Kedua kalinya untuk berpisah. Keduanya berpisah dalam kurun waktu satu tahun.

Awalnya aku menyalahkan keadaan, karena kami berbeda kami tak bersama, karena kami orang yang pendiam kami tak dapat maju, karena jarak yang sangat jauh kami berpisah.

Iya, awalnya sampai aku berpikir akan kesalahanku.

Bukan karena perbedaan kami tak dapat bersatu, karena aku yang tak mau untuk meyakinkan dia. Karena aku adalah pengecut yang hanya bisa mengungkapkan perasaan lewat kata.

Bukan karena kami pendiam kami tak dapat maju, tapi karena aku yang tak mau untuk melangkah terlebih dahulu. Hanya untuk menatap mata dan bertegur sapa aku selalu menundukkan kepalaku.

Bukan karena jarak yang sangat jauh kami berpisah, tapi karena hatiku yang terlalu egois untuk mengharapkannya selalu disisiku. Bukankah saat kami bertemu aku juga yang selalu menyia-nyiakannya?

Keadaan memang mempersulit jalanku untuk bersama seseorang diluar sana, tapi sebenarnya aku mempunyai pilihan untuk melangkah ke arah yang mana. Aku selalu diberi kesempatan untuk melakukan yang hatiku inginkan. Tapi, aku hanya terlalu takut untuk melangkah.

Jika kuingat kebelakang, satu hal yang benar-benar tak bisa kulupakan adalah masa depanku saat ini. Aku menyalahkan orang tuaku untuk segala hal yang terjadi padaku saat ini dengan berdalih tidak memberi kesempatan padaku saat itu. Tapi tidak, seandainya aku lebih berani untuk menulis sendiri apa yang kuinginkan saat itu, aku tak akan menjadi seperti ini.

Bukan masalah keadaan, tapi diriku sendiri. Jalanan sudah tersedia di depan mata, namun kakiku terlalu takut untuk melangkah sehingga aku kehilangan semua yang seharusnya kuinginkan.