Bangku Abu

Cinta masa sekolah. Banyak yang mengalaminya dan merindukan kejadian kebersamaan masa itu. Teman dan pasangan, kesedihan dan tawa, semua terangkum lengkap pada suatu buku tebal bernama memori.

Aku pun sama, menginginkan semua kejadian itu terulang sekali lagi meskipun aku tau ada derai air mata diantara banyaknya bunga yang bermekaran. Aku tak pernah menyangkal bahwa aku bahagia dengan semua campuran bumbu saat itu. Pahit manisnya tetap terasa menyenangkan karena aku memiliki banyak hadiah disampingku. Membukanya satu-persatu membuatku melukiskan sebuah pelangi terbalik dalam wajahku.

Mengagumi seorang yang belum pernah kukenal sebelumnya, jaket merah dengan berkayuh sepeda. Mencoba menghubunginya tanpa sadar aku telah masuk sebuah lubang yang tak teramat dalam dalam cinta yang salah. Aku bangkit lalu melihat seorang dalam suatu ruangan yang selalu ceria dalam hidupnya. Tanpa sadar pun aku mengikutinya sampai akhirnya aku mengetahui bahwa ia menuju masa depan. Aku tak ingin mengganggu goresan kertas masa depannya dan merenung.

Dalam renungan itu aku melihat ke samping dan melihat seorang yang diam tanpa kata. Berdalih ingin menghiburnya, akupun juga ingin dihiburkan dengan suatu ikatan. Pahitnya yang kurasakan ternyata terlalu banyak bumbu tak sesuai didalamnya. Memotong bawang hingga aku tak sadar sudah membasahi pipiku dengan air garam dari mataku. Jaket kuning itu menghapus air mataku dengan sebuah perjuangan yang sekarang tak tau dimana.

Mungkin tak hanya cinta dan hubungan, tapi juga persahabatan dan persaingan di akhir tahun kami menempuh bangku abu itu. Aku merindukannya, semua kenangan buruk maupun baik. Menyenangkan bila kita bisa kembali ke masa lalu dan untuk sekali lagi menaiki wahana itu. Ah, menyebalkan. Aku rindu.

Advertisements

Melati adalah Melati

Sekali aku berpikir di masa lalu, aku membutuhkan sosok seperti yang kucintai sebelumnya. Aku tak ingin cara yang lain selain itu. Sampai aku tersadar, takkan ada satupun orang yang mencintaiku dengan cara yang sama.

Aku telah mengabaikan melati hanya karena aku menginginkan mawar. Kau tau apa yang kupikirkan, aku berusaha mengubahmu menjadi mawar diwaktu sebelumnya. Sampai aku tersadar bahwa melati adalah melati. Putih dan tak ada duri yang dapat menyakitiku. Inti dari semuanya adalah aku menginginkan sosok bunga yang indah. Maafkan aku yang terlambat untuk menyadarinya