Posted in Diary

Mawar Untukmu

Kalau kamu mencari sosok yang seperti kamu impikan, aku takkan pernah bisa menjadi wanita itu.

Aku akan terus membuatmu marah dan bertengkar denganmu saat ini juga masa depan.

Aku adalah wanita yang seperti itu, aku menyadarinya.

Terkadang bentuk cinta bisa jadi menyakitkan, itulah caraku. Aku sungguh tak bisa menjadi wanita yang kau harapkan selama ini. Aku hanya terus berusaha dan berakhir dengan kegagalan. Maafkan aku..

Sesunggugnya aku ingin menjadi wanita itu. Wanita yang kau inginkan, penyabar dan selalu mengerti kamu. Tapi lebih jauh dilubuk hatiku, aku ingin diterima seperti ini. Rasanya menyakitkan..
Aku ingin kamu menjadi melati meskipun aku adalah mawar untukmu.

Posted in Diary

Catatan Kosong

Lelah

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Menyerah

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Harapan

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Rindu

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Masa Depan

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tangisan

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Posted in Diary

Two Months Ago

​Hari ini, tepat dua bulan yang lalu, aku berpisah dengan seorang yang kusayang. Seorang yang untuk pertama kalinya menginginkanku hadir dalam kehidupannya. Entah sejak kapan kami bertemu, mungkin jauh sebelum ini kami sudah lama melangkah namun tak saling bertemu pandang seperti saat ini. Sekarang ia telah jauh di seberang lautan sana. Kembali dalam beberapa bulan untuk sesaat lalu menjauh lagi.
Menurutku tak ada yang spesial dalam hubungan ini seperti pasangan lainnya yang bisa terlihat saling membahagiakan. Namun bagiku ini sudah cukup bagiku. Tak perlu banyak orang tau bagaimana cara kami untuk saling membahagiakan, tak perlu bagi kami untuk setiap kali mengucap kata sayang satu sama lain, kami hanya menjalaninya dengan sepenuh hati dan berharap masa depan adalah milik kami. Tak perduli bagaimana beratnya cobaan yang akan ada di depan nantinya. Jalani yang sekarang, mengharapkan yang terbaik tuk masa depan dan jangan melupakan masa lalu sebagai pembelajaran.

Kubaca pesan yang ia berikan padaku terakhir kali sebelum ia pergi ke perantauan. Entah apa yang membuatku sedih dan sedikit menangis. Aku mengingat kenangan yang kami ciptakan berdua pada saat itu. Aku masih mengingatnya dengan jelas walaupun tak pernah kuungkapkan padanya. Kami duduk berdua di depan masa laluku. Kami saling bercanda dan aku masih dalam kecanggunganku seperti biasanya, tak berani menatap matanya. Aku juga mengingat kami pernah bermusuhan seperti anak-anak. Tak saling berbicara selama satu hari dan hanya saling memperhatikan dari kejauhan yang pada akhirnya entah bagaimana kami sudah berbaikan kembali.

Mengingat itu semua membuatku berpikir, aku bersyukur Tuhan telah menciptakannya untukku. Entah sampai kapan semua kebahagiaan ini akan berlanjut, aku hanya berdoa agar tak cepat berlalu. Karena kehadirannya dalam hidupku begitu berarti. Ia mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan, ia seperti orang tuaku yang sangat menyayangiku, ia seperti kakakku yang tak ingin aku salah mengambil jalan. Meskipun kadang aku tak mengerti benar apa yang dia pikirkan dan merasa kesal dalam satu pihak, tapi pada akhirnya aku tetap menginginkannya untuk berada disampingku.

Hello my beloved, how are you there? When you comeback here? I miss you

Posted in Diary

Perubahan?

Kehidupanku berubah sangat drastis ketika aku menginjak bangku perkuliahan. Aku memiliki segalanya yang aku butuhkan. Yang tadinya aku membeli makan saja berpikir dua kali, saat ini aku memiliki uang saku 50ribu tiap harinya. Ya, aku seakan menjadi orang kaya baru. Bahkan aku yang tadinya sangat dijaga dan orang tuaku tak memperbolehkanku untuk melakukan apapun sendiri, akhirnya aku bisa melakukan apapun yang aku mau sendirian. Aku mengendarai sepeda motor untuk pergi dan pulang kampus. Aku juga diperbolehkan pulang malam jika memang ada keperluan. Sangat nyaman? Continue reading “Perubahan?”

Posted in Diary

Batasan

Kemarin aku mendapat tekanan secara tiba-tiba. Tekanan itu biasa muncul setiap beberapa hari sekali. Aku berusaha untuk mengatasi perasaan itu, tapi semakin lama perasaan itu semakin menyakitkan. Mengetahui suatu hal yang membuatmu sedih itu sangat sulit tuk kulupakan. Aku berusaha membicarakannya dengan beberapa temanku. Ada yang mengatakan bahwa aku harus meluapkannya agar tak ada yang disembunyikan dan bisa mengatasi masalah ini bersama. Namun ada juga yang menyarankan untuk menyimpannya dan berharap dia sadar akan perilakunya. Karena menurutnya, mengatakan hal yang sejujurnya akan membuat suasana semakin kacau.

Malam itu aku bingung ketika berbicara dengannya. Ia menyuruhku untuk mengatakan yang sejujurnya dan bersiap akan resiko yang terjadi. Dengan ragu aku akhirnya mengatakan semua keluh kesahku selama ini. Aku mengatakannya panjang lebar dan aku pun mengetahui ia tak tahu benar apa yang kumaksudkan.

Keadaanku semakin kacau membuat kondisiku semakin menurun. Ya, tak banyak yang tau bahwa pemikiranku bisa membuat drop kondisi mental dan fisikku. Dengan keadaan seperti itu, obrolanku pun semakin tak bisa diatur. Bahkan aku meragukan perasaannya kepadaku.

“Jelaskan apa arti diriku bagimu? Apa perbedaanku dengannya?”

“Kamu membutuhkan penjelasan tentang rasaku padamu?”

Sekarang, ketika kumembaca ulang pesan itu, aku benar-benar menyesal akan kata-kataku terhadapnya. Aku meragukan perasaannya padaku dan membuatnya sedikit kesal. Andai ia tau perasaanku selama ini. Aku hanya sedikit tak bisa mempercayai suatu hubungan lagi setelah aku berpisah dengan yang lama. Semua kejadian itu membuatku benar-benar berpikir berulang kali untuk mempercayai seseorang. Kebohongan yang dibuat oleh siapapun itu membuatku trauma. Luka akan kekecewaan tak bisa sembuh begitu saja.

Setelahnya, aku memutuskan untuk tidur. Bangun dari tidur, aku berpikir dan memutuskan untuk mengikhlaskan semuanya. Aku percaya, Tuhan ingin menunjukkan sesuatu entah itu untukku atau untuk orang lain. Sambil air mataku mengalir, aku bertanya kepada temanku tentang keikhlasan. Aku mendapatkan poinnya dan aku ingin berusaha.

Kemudian aku mengingat kejadian dimasa lalu. Aku telah memisahkan hubungan sahabatku dengan pasangannya hanya karena aku tak ingin jauh dari sahabatku. Aku belajar banyak dari kejadian itu dan sekarang aku merasakan jadi pasangan sahabatku saat itu. Sangat sakit, namun ia menahannya selama beberapa bulan sebelum akhirnya berpisah. Mungkin Tuhan ingin menyadarkanku sesuatu dengan kejadian itu. Bahwa persahabatan lelaki dan perempuan harus memiliki batas. Sahabat bisa saja menjadi keluarga, namun kita juga sebaiknya harus menghargai perasaan pasangan masing-masing.

Aku meminta maaf untuk kedua kalinya kepada mantan pasangan sahabatku. Dan ya, benar saja, hatiku merasa sedikit lega. Begitu mengetahui dengan meminta maaf membuatku lega, aku meminta maaf kepada beberapa orang yang pernah aku sakiti dengan pernah mendekati pasangannya meskipun hanya sebatas teman. Aku benar-benar bersyukur akan tanggapan dari mereka. Mereka memaafkanku dan aku benar-benar seperti terlahir kembali. Aku tak ingin mengulangi kesalah untuk kedua kalinya. Mungkin aku memang memiliki sahabat, tapi mulai sekarang aku akan memberi batasan. Terimakasih Tuhan.

Posted in Diary

Something Wrong Inside Me

Entah sejak kapan aku menjadi seperti ini. Mungkin aku terlalu banyak menghadapi masalah sehingga sifatku menjadi semakin tak terkendali. Sangat banyak yang kupikirkan namun tak bisa kukeluarkan dengan baik. Sekalinya kumengeluarkannya, ucapan dan tindakanku tak sesuai harapan awal. Semuanya semakin menjadi-jadi bahkan bisa menyakiti orang yang kusayangi.

Menulis pun sekarang menjadi sangat berat bagiku. Pikiran yang sangat kacau membuatku berubah. Hanya saja, seperti ada yang ingin kukeluarkan namun yang terlihat jelas hanyalah air mata ini. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana tepatnya perasaanku akan semua masalahku. Selama ini aku hanya menutup telinga dan kabur. Ternyata aku salah, kita memang diciptakan memiliki telinga untuk mendengar semua cacian itu dan kita diberi akal untuk berpikir cara menghadapinya.

Menjadi seorang pemikir sangatlah menyebalkan jika kau tak bisa mengendalikan dan tak mengerti harus berbuat apa. Hanya berpikir akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Aku tak bisa berbuat apapun untuk sekarang. Tapi, menenangkan diripun tak lagi berguna. Terlalu lama aku menenangkan diri tanpa adanya penyelesaian.

Keluarga, pertemanan, pendidikan dan pasangan. Seakan semua masalah datang menjadi satu menyerangku. Ingin ku kabur sejenak dari semuanya dan menata hatiku untuk siap menghadapi semuanya. Lamunanku membuat semua orang bertanya apa yang sedang terjadi dan aku hanya bisa terdiam seakan tak terjadi apa-apa.

Tuhan, tetaplah berada disampingku. Dampingilah aku selalu tuk menghadapi semua masalah yang sedang terjadi padaku. Aku tau semua berasal dari diriku pribadi, tapi aku tak bisa mengatasi semuanya sendirian. Andai aku bisa merasakan pelukanMu, apakah aku bisa lebih tenang dibandingkan sekarang? Aku membayangkan Kau memeluk dan mendekapku sambil berkata, “semuanya akan baik-baik saja. Percayalah, Aku akan selalu membantumu. Kau tak sendirian”

Andai aku bisa mengatur semua perasaan dan akalku dengan baik, semua pasti tak akan seperti ini. Ada yang salah dengan diriku saat ini. Semuanya menjadi terlihat salah dimataku dan itu membuat semua orang yang kusayangi menjadi kesusahan. Meminta maaf kepada mereka bukanlah jalan keluar, aku harus mencari solusi agar aku kembali seperti semula.

Kenyataannya, ketika ada masalah aku hanya ingin lari dan menutup wajahku dengan bantal. Mendengarkan lagu dengan volume yang sedikit kencang dan mengabaikan apapun yang terjadi disekitarku. Aku menjadi sedikit acuh pada semua yang terjadi. Aku tak ingin seperti ini lebih lama. Aku hanya menginginkan diriku yang dulu meskipun banyak kekurangan, setidaknya aku tak menyakiti orang yang kusayangi. Bisakah aku menjadi seperti sediakala?