Menjadi Aku

Terkadang, tepatnya sering, aku mengeluh akan semua yang aku alami dikehidupanku ini. Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang kekurangan. Semenjak lahir, orang tuaku selalu mengusahakan yang terbaik hanya demi anak-anaknya. Memberi pendidikan agar tidak seperti mereka kelak, berupaya yang terbaik demi kebahagiaan kami. Tapi aku, seakan hidupku tidak mempunyai warna apapun.

Aku mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa aku syukuri, namun aku adalah orang biasa yang tak mengerti maksud Tuhan memberikan kehidupan ini.

Mengeluh dan terus mengeluh…

Hanya itu yang kulakukan setiap harinya. Setiap aku melamun, hanya ada bayangan kesedihan. Sebenarnya aku pun tak ingin memiliki sifat pesimistik seperti ini. Sekecil apapun masalahnya, aku bisa menjadikannya masalah yang besar dan berlarut-larut.

Hidup keluargaku yang kekurangan menjadikanku tidak mendapat kebahagiaan seperti teman-temanku yang setiap liburannya selalu bisa pergi kemanapun ia inginkan. Itulah yang kupikirkan sebelum aku sedikit menyadari, bahwa dengan kekuranganku ini, aku bisa menjadi pribadi yang lebih bijak menggunakan kekayaan dan hidup lebih sederhana. Bahkan nantinya aku sudah bisa lebih cepat menyesuaikan diri jika sewaktu-waktu aku akan mengalami masalah yang sama seperti keluargaku.

Menjadi seorang yang memiliki sedikit teman dan tertutup menjadikanku terus mengeluh dengan keseharianku yang lebih banyak kuhabiskan dirumah. Aku iri dengan semua teman-temanku yang bisa bergaul dengan orang manapun, lebih bisa menghadapi orang banyak, dan mereka memiliki seseorang yang selalu bisa diajak tertawa bersama. Itu juga yang kupikirkan sampai aku menyadari bahwa orang sepertiku lebih banyak memiliki waktu untuk menghargai keluarga. Berapa banyak orang diluar sana yang lebih mementingkan organisasi serta bermain dengan temannya sehingga tidak ada waktu untuk keluarga? Iya, aku trauma dengan sesuatu berbau ulang tahun. Aku tidak mempunyai banyak teman dan bahkan ulang tahunku ke-20 ini membuatku membenci ulang tahunku sendiri. Aku tak menyangka bahwa hari dimana aku membenci ulang tahunku sendiri akan hadir secepat ini. Tapi, aku bersyukur bahwa inilah cara Tuhan mengingatkanku, kau tak butuh seorang pun untuk bahagia. Harapan itu, semua keinginanku, sudah pergi. Aku akan selalu mengingat sakitnya diacuhkan, sehingga aku lebih menghargai semua temanku. Aku menjadi orang yang lebih baik.

Satu hal lagi, cinta. Menjadi seorang yang dicintai dan dicintai mungkin akan terlihat menyenangkan, sirna. Aku tak mengerti apa yang ingin ditunjukan oleh Tuhan dari semua kegagalan akan perasaanku. Tapi aku berusaha mengerti, bahwa setiap hubungan memiliki caranya sendiri. Bersenang-senang, pertikaian, ketidakpastian, perpisahan, kesedihan, kebohongan, itulah cinta. Berbagai macam bentuknya, yang bisa dilakukan hanyalah menghargai cara Tuhan memberikan cintanya.

Apakah kamu pernah melihat seseorang yang selalu bahagia dengan hubungannya? Dia memiliki masa lalu yang buruk sehingga mereka tak ingin hal itu terulang kembali.

Apakah kita pernah melihat seorang yang selalu marah terhadap pasangannya? Dia mengharapkan sesuatu dari pasangannya yang tak pernah diberikan, egois? Sedikit.

Apakah ada seorang yang selalu terbayang kebahagiaan masa lalunya? Ada sesuatu yang terpendam dari perpisahan mereka, restu.

Ketika kita mengeluh, cobalah memandang dari sudut yang tak pernah kamu lihat. Ada sesuatu yang bisa menjadi pelajaran kita sebelum kebahagiaan yang sebenarnya itu datang.

Advertisements

Kepada siapa aku harus menceritakan semuanya?

Kepada dia yang memiliki hubungan baik dengan pasangannya? Ah, tidak. Dalam benaknya saat ini hanyalah kebahagiaan dan kelegaan. Ia pasti akan memberiku nasihat “lakukan apa yang menurutmu dapat membuatmu bahagia”

Kepada dia yang sedang tersakiti sama sepertiku? Ah, tentu bukan. Ia hanya akan meluapkan emosi dan menyangkutkan dengan kehidupannya juga. Saran yang tidak murni berasal dari rasionalitas.

Kepada dia yang tidak memihak siapapun? Hmm, sudah pernah kulakukan. Tapi ia bukan menyelesaikan masalahku, ia hanya memberiku pilihan yang akupun tak tau harus menjawab apa.

Kepada dia yang mengerti perasaanku dan memihakku? Bukan, itu tidak adil. Karena aku yang saat ini akan berbeda dengan aku di masa lalu maupun di masa depan. Hanya dalam 5 menit akupun bisa berubah.

Kepada Tuhan? Sudah kulakukan setiap hari untuk meminta petunjuk. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang tak mengerti petunjuk seperti apakah yang ditunjukan kepadaku.

Aku tak mengerti, mengapa begitu menyakitkan. Apakah seseorang itu sengaja ingin menyakitiku? Jika benar, dia berhasil dan aku kecewa. Sangat kecewa. Jika dia tak bermaksud, aku tetap kecewa.

Mungkin, dia ingin membalaskan dendamnya yang diapun tak tau kebenarannya. Tapi sekarang aku mencoba untuk melepaskannya. Melepaskan semua yang akan menjadi beban di masa depan maupun saat ini. Karena aku terlalu lelah untuk menangisi suatu keadaan yang terus berulang. Aku tak tau dirinya, aku hanya tau diriku perlu untuk bahagia dan dihargai.

Hati, mengapa kau memilihnya? Apa kau tak lelah selalu dikecewakan? Apakah air matamu masih cukup untuk kehidupan yang masih panjang ini? Hati, aku benar-benar lelah terhadapnya. Apa kau tak merasakan apa yang kurasakan? Tolong hargai diriku sebagai pemilik dirimu.

Akupun tau sangat berat untuk berpisah, tapi menjalaninya dan terus berada dalam situasi ini apakah kau mampu? Kau bahkan melupakan semua orang yang peduli terhadapmu hanya untuk menangisi seseorang yang tak peduli dirimu.

Iya, aku sama sepertimu. Aku tak pernah menyesal untuk memilih siapapun. Aku hanya kecewa untuk selalu bertahan dalam lubang yang sama meskipun penggalinya berbeda.

Keluarga Kecil

Sesuatu yang paling berpengaruh dalam suatu hubungan adalah kepercayaan.

Iya, kalimat itu berlaku untuk dua insan yang menjalin hubungan dan seseorang yang berjuang demi cintanya.

Kalimat tersebut juga berlaku untuk kepercayaan diri sendiri.

Aku ingin mempercayai orang lain, tapi aku tak bisa mempercayai diri sendiri untuk mencintai tanpa menyakiti.

Keadaan yang paling membuatku sedih bukanlah perpisahannya, tapi kenyataan bahwa aku tak bisa mencintai tanpa menyakiti.

Aku pun percaya bahwa setiap hubungan pasti ada masa dimana kami saling bertengkar, saling berdebat dan bermusuhan.

Tapi aku, yang kulakukan sudah melewati semua batasannya.

Satu hal yang paling kuharapkan dari suatu hubunganku nantinya, akan ada seseorang yang terus memegang tanganku bagaimanapun keadaanku saat itu.

Entah aku menyakitinya ataupun tidak, aku ingin seseorang itu terus mempercayai apa yang ada dalam perasaannya dan bukan percaya pada semua ucap serta tindakanku.

Menjadi seseorang yang terlalu terbuka membuatku mengatakan dan berperilaku tanpa berpikir terlebih dahulu, aku ingin ia mengerti semua itu.

Aku ingin ada seseorang yang menganggapku sebagai keluarga kecil di masa depan, dengan begitu ia takkan pernah melepaskanku walaupun aku memberinya beban yang tak pernah ia bayangkan.