Feeling and Love

Jika perasaan seseorang ditentukan dari seberapa sering seorang membuat kita bahagia, lalu bagaimana bila kita mendapatkan ibu yang kejiwaannya terganggu?

Seberapa pantas seorang untuk dicintai bukan dari perilaku orang itu terhadap kita, tapi cinta datang dari hati kita untuk selalu menggenggam tangan mereka dengan erat apapun yang terjadi.

Apakah kita sendiri sudah bisa dengan lantang menyatakan bahwa kita pantas dicintai? Kalau iya, lalu mengapa masih ada seorang diluar sana yang bisa membenci kita?

Jadi, mencintai itu dengan cara membahagiakan seorang? Lalu bagaimana disuatu hari ketika mempunyai anak yang berbuat salah, apakah kita tidak akan memarahinya dengan berdalih bahwa kita mencintainya?

Memang benar jika cinta berasal dari diri kita sendiri. Tapi, apakah perasaan sayang seorang ibu miskin akan tersampaikan jika dia menitipkan bayinya pada orang kaya dan hanya berdoa demi kebahagiaannya?

Yang mau aku katakan, cinta bukan suatu hal yang bisa dideskripsikan hanya dengan satu teori.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s