Posted in Diary, Pesan

Pengecut dalam Kata

Disini, aku menunggunya sendirian tanpa tau apakah pada akhirnya dia akan meninggalkanku atau kembali padaku. Banyak hal yang sudah tak bisa kusampaikan ataupun kutanyakan padanya. Pada akhirnya aku adalah satu-satunya orang bodoh yang memperjuangkan cinta sepihak (lagi). Pada akhirnya kesalahankulah yang membuat semuanya berakhir (lagi).

Pada awalnya, akulah orang yang takut untuk mempercayai apa itu kasih sayang dan cinta. Aku adalah orang yang tak percaya cinta hanya dengan perkataan karena aku pernah dicintai hanya melalui kata lalu berpisah begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ketika aku menemukan seorang yang lain, ternyata luka di masa lalu masih belum tertutup rapat. Akulah orang yang merusak hubunganku sendiri dan menyalahkan orang lain. Iya, sebodoh itu aku. Akulah orangnya.

Dikhianati dan mengkhianati. Ditinggalkan dan meninggalkan. Aku pernah mengalami keduanya. Aku tau rasa sakitnya dikhianati, aku tau rasa pedihnya ditinggalkan. Ketika aku menemukan orang yang (mungkin) benar mencintai aku apa adanya, aku dengan mudahnya mengatakan kata perpisahan itu dan akulah yang menangis sepanjang hari untuk penyesalanku sendiri.

Sekarang aku berusaha memperbaikinya. Dia memberiku kesempatan untuk terakhir kalinya, tapi dia juga yang menutup pintu ketika aku mengetuk. Aku tak ingin bertanya apakah aku bisa kembali kepadanya. Jika dia menginginkannya, dia bisa meninggalkanku ataupun kembali padaku. Tapi aku tau bahwa kesempatan tak pernah datang dua kali. Dia yang dulu pernah benar menyayangiku sudah pergi. Dia hanya belum sadar akan hal itu. Jika ditanyakan “kenapa kamu bisa menyimpulkan hal itu?”, aku akan menjawab “karena dia pun tanpa sadar telah menutup pintu setiap kali aku mengetuk.”

Aku sudah tak berharap dia kembali kepadaku. Sungguh. Dia menginginkan aku berubah karena dia menyayangiku dan aku dengan tulus mengikuti apapun perkataannya. Aku menyadari hal yang paling dia inginkan dariku, bersikap lebih dewasa. Aku ingin dia mengetahui perubahanku, tapi bagaimana seorang bisa mengetahui perubahan orang lain jika dia tak pernah menatapku.

Jika aku boleh memberinya pesan, aku bisa memberinya pesan berupa satu buku tebal yang berisi tentang bagaimana perasaanku dan kehidupanku yang baru. Tapi seorang selalu berkata kepadaku “ingatlah bahwa kalian sudah bukan dua insan seperti dahulu.”

Aku memang pengecut. Aku hanya bisa mengungkapkannya lewat kata yang bahkan tak berhadapan langsung kepadanya. Seandainya Tuhan memang menghukumku dengan cara memisahkanku dengannya, aku ingin mengatakan pesan cukup panjang untuknya.

** ***** **

Untuk kamu yang mungkin tak pernah ada aku lagi di dalam hatimu:

Aku bahagia pernah mengenal dan menjadi bagian dari cerita hidupmu.

Aku bahagia pernah kamu cintai dan perjuangkan sebegitu kerasnya.

Maafkan aku untuk menjadi orang yang belum dewasa saat bersamamu. Aku masih menyayanginya meskipun aku tau bahwa aku telah memilikimu. Disaat semua sudah berakhir, aku menyadari bahwa aku tak seharusnya menyimpan semua kenangan yang akan menghancurkan masa ini. Tapi sepertinya semuanya sudah terlambat bagi kita berdua.

Sabtu, 1 April 2017

Semua berjalan dengan baik sebelum aku mengakhirinya denganmu. Saat itu aku mengkhianatimu. Aku benar-benar mengkhianatimu dengan perasaan yang ingin kembali dekat kepada masa laluku. Aku meminta bantuan beberapa orang untuk mendekatkanku dengannya. Aku wanita brengsek kan? Aku juga berpikir demikian.

Minggu, 2 April 2017

Semua keadaan tertutupi dengan kesibukanku.

Senin, 3 April 2017

The worst day ever. Maafkan aku juga karena tiba-tiba sahabatku memakimu malam itu. Aku tak bisa mengingat hari ini dengan baik. Aku hanya bisa mengingat bahwa itu adalah worst day ever.

Selasa, 4 April 2017

Hari itu, aku pertama kalinya menjadi manusia yang sedikit buruk. Aku merencanakan dari awal bahwa aku tak ingin kuliah. Maafkan aku juga telah menceritakan masalah aku dan kamu yang saat ini tak bisa disebut dengan kata ‘kita’. Beberapa pesan yang terkirim saat itu bukan sepenuhnya dari ketikan tanganku. Saat itu aku menuliskannya dalam kertas putih yang diterjemahkan oleh beberapa teman kampusku. Maafkan aku juga untuk itu.

Sekarang,

Aku benar-benar bahagia bisa kembali menjadi teman dekat seperti dulu. Meskipun aku tau, kamu belum sepenuhnya menerimaku. Aku berusaha mengatakannya padamu. Aku berusaha memulainya dengan kalimatku yang mungkin membuatmu marah. Seperti yang aku ucapkan, kamu selalu menutup pintu ketika aku mengetuknya. Kamu hanya membacanya seakan tak mempedulikanku. Aku hanya ingin kamu tau, bahwa setiap kali aku memberi pesan seperti itu kepadamu, aku sekuat tenaga menahan kesedihan itu dan berharap kamu menenangkanku seperti dahulu. Akhirnya aku tau, bahwa aku sudah tak ada dalam hatimu meskipun hanya sesaat.

Aku akan mengatakannya lagi pada pesan ini, aku telah siap untuk kamu bersama dengan kebahagiaan lainnya yang lebih baik dariku. Meskipun suatu saat kamu akan mendapatiku menangis, percayalah bahwa aku akan selalu bahagia untuk setiap keputusanmu. Jangan pernah melihat air mataku, tapi lihatlah senyum dibibirku.

Aku memang punya keberanian dan kekuatan, tapi aku juga mempunyai perasaan. Perasaan hancur ketika kamu terus mengabaikanku. Aku adalah pengecut yang tak bisa bertahan hanya karena diacuhkan. Aku sungguh mengagumimu yang selalu bersabar ketika aku mengabaikanmu di saat itu. Ada kalimat yang ingin aku sampaikan padamu malam ini. Tapi aku tak pernah kembali berani untuk apapun yang bersangkutan kepadamu dan perasaanku. Apa yang ingin kusampaikan adalah,

Aku benar-benar lelah untuk berjuang sendirian. Rasanya aku ingin melupakan semua kejadian itu, tapi selalu tak bisa. Bagaimanapun sikap dan perkataanku, kau tau siapa yang selalu ada dipikiranku. Aku mengeluh karena aku tak bisa mengatasinya, mengatasi kesalahanku. Ketika aku berpikir bahwa mungkin kau tak percaya kepada aku yang sekarang, rasanya aku ingin menghilang. Aku menemukan quote yang awalnya kuanggap omong kosong, tapi aku merasakannya saat ini “seorang perempuan akan sangat terluka ketika kesetiaannya diragukan.” Aku tak bisa menyalahkanmu yang meragukanku, tapi itulah perasaanku. Menyedihkan.

Mungkin itu sebagian kecil dari apa yang ingin kusampaikan padamu. Aku memang pengecut yang hanya bisa mengungkapkannya dengan kata tak langsung seperti ini. Maafkan aku sekali lagi dan semoga kamu selalu bahagia.

Advertisements

Author:

Hello!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s