Seorang bisa saja menangis saat dia tertawa bahagia. Tapi kenapa seorang sulit untuk tersenyum disaat sedang menangis dalam kesedihan?

Advertisements
Posted in Puisi

Ulat dan Langit

Seekor ulat takkan terbang tanpa sayapnya

Sayap ulat takkan pernah ada sebelum menjadi kupu

Ulat takkan menjadi kupu tanpa tahap kepompong

Kepompong pun takkan terjadi dalam waktu yang singkat

***

Ibarat aku adalah ulat dan kau langitnya

Aku takkan bisa menggapaimu tanpa adanya tahap kepompong

Aku takkan bisa merasakan keindahanmu tanpa adanya sayap ditubuhku

Untuk itu aku akan berproses menjadi kupu-kupu yang indah

***

Di tengah proses pun aku memiliki banyak resiko

Aku bisa mati karena gagal berkembang

Aku bisa menjadi kupu yang cacat bila tak berevolusi dengan benar

Aku pun bisa menggapaimu ketika sudah menjadi kupu yang sempurna

***

Namun semua proses itupun membutuhkan waktu yang tak singkat

Apakah langit akan menungguku selama itu?

Apakah aku bisa saja terlambat untuk sebuah perubahan?

Bisakah aku mempercayai bahwa langit akan terus menungguku?

Posted in Puisi

Menahan Tekanan

Selalu ada kata yang tak pernah terucap

Selalu ada perasaan yang terpendam

Selalu ada air mata dalam kegelapan

***

Jika kau bertanya apakah aku bahagia, aku akan menjawab iya

Tapi tolong jangan tatap air mataku

Lihatlah saja senyum dibibirku

***

Ternyata kau benar, menahan semua sendirian begitu berat

Kenapa saat itu aku sama sekali tak mengerti?

Berjalan dan berusaha menembus awan, itulah yang kulakukan

Kesia-siaan yang kuperjuangkan

***

Aku memang belum pantas

Bahkan takkan pernah pantas

Apakah aku hanya perlu melepasmu?

Bisakah aku hanya pergi dari dunia ini?

***

Berbahagialah bersamanya yang akan membuatmu nyaman 😀

Berhenti atau terus berjuang adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan memiliki resiko pada hasil akhir. Entah tepat atau tidak, setidaknya kau sudah memilih dibandingkan hanya berdiam diri dan mengikuti arus.

Posted in Puisi

Katakanlah Sesuatu

Mungkin dimatamu

Aku bukanlah orang yang sama

Rupa dan bentukku tetaplah aku yang dulu

Namun hatiku sudah bukan seperti dulu

***

Mungkin dihatimu

Kau tak lagi mempercayaiku

Kau terus menyimpan kekecewaan itu

Dan kau sudah menutup pintu untukku

***

Tapi untukku

Tak bisakah kau beri aku kesempatan?

Apakah yang kuperbuat ini adalah sebuah keterlambatan?

Katakanlah apa yang seharusnya aku perbuat saat ini

***

Bukan hanya kau juga mereka

Akupun kecewa terhadap diriku

Untuk itu aku ingin membuktikannya

Bahwa aku yang saat ini sudah berubah

***

Sekarang aku hanya ingin menyimpan semuanya

Perasaan cemburuku terhadapmu

Rasa kesalku saat harus berjuang sendirian

Dan rasa rinduku yang tak terbalaskan

***

Apakah ini hukuman bagiku?

Apakah kau sedang mengerjaiku?

***

Rasanya sesak bila harus selalu menahannya

Tapi aku tak ingin siapapun mengetahuinya

Tapi aku pun tak bisa menyimpannya sendirian terlalu lama

Katakanlah aku harus bagaimana

Posted in Puisi

Rindu

Aku rindu

Saat kita masih bisa bertemu tatap

Saat sapaan adalah suatu hal biasa

Saat aku tau keadaanmu meskipun tak kau berikan kabar

***

Aku rindu

Kepada perhatian kecil yang biasa kau berikan

Kepada usapanmu saat air mataku mengalir

Kepada jabat tanganmu saat aku terjatuh

***

Aku rindu

Ketika aku bersedih dan kau menghiburku

Meskipun kau tak tau benar keadaanku

Kau mengetahuinya dari air mataku

***

Saat ini

Keadaan mengubah kita

Menjadi pribadi yang berbeda

Dengan kebiasaan yang berbeda pula

***

Kau tak lagi tau tangisanku

Tanganmu pun tak bisa mengusap air mataku

Tak lagi ada senyuman maupun kepedihan yang terlihat

Hanya sebuah kata yang menghubungkan kita

***

Lewat puisi ini

Aku harap dapat menyampaikan perasaanku terhadapmu

.

.

.

Java: April 15th, 2016