Posted in Diary

Two Months Ago

​Hari ini, tepat dua bulan yang lalu, aku berpisah dengan seorang yang kusayang. Seorang yang untuk pertama kalinya menginginkanku hadir dalam kehidupannya. Entah sejak kapan kami bertemu, mungkin jauh sebelum ini kami sudah lama melangkah namun tak saling bertemu pandang seperti saat ini. Sekarang ia telah jauh di seberang lautan sana. Kembali dalam beberapa bulan untuk sesaat lalu menjauh lagi.
Menurutku tak ada yang spesial dalam hubungan ini seperti pasangan lainnya yang bisa terlihat saling membahagiakan. Namun bagiku ini sudah cukup bagiku. Tak perlu banyak orang tau bagaimana cara kami untuk saling membahagiakan, tak perlu bagi kami untuk setiap kali mengucap kata sayang satu sama lain, kami hanya menjalaninya dengan sepenuh hati dan berharap masa depan adalah milik kami. Tak perduli bagaimana beratnya cobaan yang akan ada di depan nantinya. Jalani yang sekarang, mengharapkan yang terbaik tuk masa depan dan jangan melupakan masa lalu sebagai pembelajaran.

Kubaca pesan yang ia berikan padaku terakhir kali sebelum ia pergi ke perantauan. Entah apa yang membuatku sedih dan sedikit menangis. Aku mengingat kenangan yang kami ciptakan berdua pada saat itu. Aku masih mengingatnya dengan jelas walaupun tak pernah kuungkapkan padanya. Kami duduk berdua di depan masa laluku. Kami saling bercanda dan aku masih dalam kecanggunganku seperti biasanya, tak berani menatap matanya. Aku juga mengingat kami pernah bermusuhan seperti anak-anak. Tak saling berbicara selama satu hari dan hanya saling memperhatikan dari kejauhan yang pada akhirnya entah bagaimana kami sudah berbaikan kembali.

Mengingat itu semua membuatku berpikir, aku bersyukur Tuhan telah menciptakannya untukku. Entah sampai kapan semua kebahagiaan ini akan berlanjut, aku hanya berdoa agar tak cepat berlalu. Karena kehadirannya dalam hidupku begitu berarti. Ia mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan, ia seperti orang tuaku yang sangat menyayangiku, ia seperti kakakku yang tak ingin aku salah mengambil jalan. Meskipun kadang aku tak mengerti benar apa yang dia pikirkan dan merasa kesal dalam satu pihak, tapi pada akhirnya aku tetap menginginkannya untuk berada disampingku.

Hello my beloved, how are you there? When you comeback here? I miss you