Posted in Diary

Batasan

Kemarin aku mendapat tekanan secara tiba-tiba. Tekanan itu biasa muncul setiap beberapa hari sekali. Aku berusaha untuk mengatasi perasaan itu, tapi semakin lama perasaan itu semakin menyakitkan. Mengetahui suatu hal yang membuatmu sedih itu sangat sulit tuk kulupakan. Aku berusaha membicarakannya dengan beberapa temanku. Ada yang mengatakan bahwa aku harus meluapkannya agar tak ada yang disembunyikan dan bisa mengatasi masalah ini bersama. Namun ada juga yang menyarankan untuk menyimpannya dan berharap dia sadar akan perilakunya. Karena menurutnya, mengatakan hal yang sejujurnya akan membuat suasana semakin kacau.

Malam itu aku bingung ketika berbicara dengannya. Ia menyuruhku untuk mengatakan yang sejujurnya dan bersiap akan resiko yang terjadi. Dengan ragu aku akhirnya mengatakan semua keluh kesahku selama ini. Aku mengatakannya panjang lebar dan aku pun mengetahui ia tak tahu benar apa yang kumaksudkan.

Keadaanku semakin kacau membuat kondisiku semakin menurun. Ya, tak banyak yang tau bahwa pemikiranku bisa membuat drop kondisi mental dan fisikku. Dengan keadaan seperti itu, obrolanku pun semakin tak bisa diatur. Bahkan aku meragukan perasaannya kepadaku.

“Jelaskan apa arti diriku bagimu? Apa perbedaanku dengannya?”

“Kamu membutuhkan penjelasan tentang rasaku padamu?”

Sekarang, ketika kumembaca ulang pesan itu, aku benar-benar menyesal akan kata-kataku terhadapnya. Aku meragukan perasaannya padaku dan membuatnya sedikit kesal. Andai ia tau perasaanku selama ini. Aku hanya sedikit tak bisa mempercayai suatu hubungan lagi setelah aku berpisah dengan yang lama. Semua kejadian itu membuatku benar-benar berpikir berulang kali untuk mempercayai seseorang. Kebohongan yang dibuat oleh siapapun itu membuatku trauma. Luka akan kekecewaan tak bisa sembuh begitu saja.

Setelahnya, aku memutuskan untuk tidur. Bangun dari tidur, aku berpikir dan memutuskan untuk mengikhlaskan semuanya. Aku percaya, Tuhan ingin menunjukkan sesuatu entah itu untukku atau untuk orang lain. Sambil air mataku mengalir, aku bertanya kepada temanku tentang keikhlasan. Aku mendapatkan poinnya dan aku ingin berusaha.

Kemudian aku mengingat kejadian dimasa lalu. Aku telah memisahkan hubungan sahabatku dengan pasangannya hanya karena aku tak ingin jauh dari sahabatku. Aku belajar banyak dari kejadian itu dan sekarang aku merasakan jadi pasangan sahabatku saat itu. Sangat sakit, namun ia menahannya selama beberapa bulan sebelum akhirnya berpisah. Mungkin Tuhan ingin menyadarkanku sesuatu dengan kejadian itu. Bahwa persahabatan lelaki dan perempuan harus memiliki batas. Sahabat bisa saja menjadi keluarga, namun kita juga sebaiknya harus menghargai perasaan pasangan masing-masing.

Aku meminta maaf untuk kedua kalinya kepada mantan pasangan sahabatku. Dan ya, benar saja, hatiku merasa sedikit lega. Begitu mengetahui dengan meminta maaf membuatku lega, aku meminta maaf kepada beberapa orang yang pernah aku sakiti dengan pernah mendekati pasangannya meskipun hanya sebatas teman. Aku benar-benar bersyukur akan tanggapan dari mereka. Mereka memaafkanku dan aku benar-benar seperti terlahir kembali. Aku tak ingin mengulangi kesalah untuk kedua kalinya. Mungkin aku memang memiliki sahabat, tapi mulai sekarang aku akan memberi batasan. Terimakasih Tuhan.

Advertisements

Author:

Hello!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s