Posted in Diary

Harapan

Semua seperti abu-abu yang tak putih maupun hitam. Harapanku akan mewujudkan keinginan orang tuaku masih terlihat. Hanya saja sudah mulai tak nampak seperti kabut di pagi hari. Apakah ini sudah waktunya menyerah atau terus masih bisa dilanjutkan? Aku hanya berpikir bahwa semua tampak tak adil sejak beberapa minggu yang lalu. Masalah yang kuhadapi terlihat seperti kereta api yang sangat panjang. Berjalan, namun tak ada henti-hentinya. Sedangkan kuharus menyebrang jalan.

Sangat kudambakan menciptakan garis senyuman di bibir kedua orang tuaku. Tapi aku semakin sedih ketika mereka terlalu berharap kebanggaan dariku. Aku yang hanya manusia biasa ini, seharusnya mereka tak berharap seperti ini. Ya, sejujurnya aku tak yakin dengan kemampuanku. Aku hanyalah anak berumur 18 tahun yang ingin membahagiakan orang-orang disekitar dengan caraku. Cara yang sederhana dan kadang tak nampak.

Kali ini aku hanya bisa berdoa dan meminta adanya mukzizat. Berharap mungkin ada kesalahan pada kunci jawaban sehingga nilai yang salah menjadi benar. Ya, doa yang sangat aneh. Atau mungkin untuk saingan-sainganku agar nilai mereka berada di bawahku. Apakah aku jahat berharap akan ada keajaiban seperti itu? Tapi, apakah aku jahat juga jika aku berharap seperti itu agar kubisa membanggakan orang tua?

Sudah dua hari aku uring-uringan. Kadang seperti orang bodoh yang hanya tinggal di kamar, duduk di sudut kasur dan melihat kearah jendela. Sesekali menghela nafas agar aku mendapat ketenangan. Namun, semua yang kulakukan itu sia-sia. Semua masalahku takkan selesai meskipun aku berusaha seperti apapun. Hanya tinggal menunggu pengumuman dan itulah takdir yang menungguku saat ini.

Mengerti bahwa aku mungkin saja tak lolos, akhirnya akupun berniat mengambil ujian lainnya. Namun, hal yang paling kupikirkan adalah biaya. Itu terlalu membebankan orang tuaku. Selain aku tak membanggakan mereka, aku nantinya akan menguras uang mereka hanya demi anak bodoh sepertiku. Aku tak ingin terjadi hal seperti itu. Apakah aku benar-benar tak ada kesempatan? Ataukan masih ada secercah harapan untukku membuat pelangi dibibir orang tuaku?

Advertisements

Author:

Hello!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s